Sabtu, 24 Januari 2015

si Waktu, Kenangan, dan Sedih

Aku terbaring dalam lamunan. Lagu-lagu bernuansakan cinta begitu memekakkan telinga. Liriknya membawaku melayang-layang, jauh tinggi sekali. Sepertinya aku tahu dia akan membawaku kemana, bertemu sang waktu dan menyelam bersama kenangan.



Sesungguhnya aku hanya butuh kepastian bahwa bahagia itu memang ada tanpa perlu dibayang-bayangi ketakutanku akan kesedihan dan masalalu. 

Lagu ini, suasana itu, semuanya berputar-putar mengisi ruang pikiranku secara bergantian. Kau tahu? Dulu si Bahagia pernah mengetuk pintu meminta izin untuk masuk kesini, tapi aku tolak dengan halus, Dengan alasan bahwa aku terlalu sedih untuk bersenang-senang.

Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini lebih nyaring. Tapi belum sempat aku menyentuh daun pintu, dia sudah menerobos masuk. Aku tak sempat melihat wajahnya, dia terlalu cepat. Dia berlarian mengelilingi ruangan dan membuka pintu-pintu. Padahal aku yakin aku sudah mengunci beberapa ruangan, tapi bagaimana dia bisa membukanya semudah itu?

Aku dibuat kesal melihat kelakuannya yang tidak sopan. Aku kejar, tapi aku kalah cepat. Aku panggil, dia tidak menoleh, tetap asik dengan kegiatannya. Sampai akhirnya ia berdiri di depan sebuah pintu yang besar berwarna merah kehitaman. Aku ingat itu adalah pintu terakhir yang aku kunci kemarin. Pintu dari ruangan yang paling megah di tempat ini. Dari kejauhan terlihat dia seperti sedang menimbang-nimbang akan membukanya atau tidak, kesempatan itu segera aku manfaatkan untuk menangkapnya.

Aku cengkram tangan kanannya, lalu aku paksa dia menatapku. Tapi yang aku dapat bukan wajah penuh penyesalan ataupun ketakutan, melainkan senyumannya yang penuh arti. Sekarang aku dapat mengenalinya, dialah Si sedih.
"Jangan buka pintu yang itu!" kataku dengan tegas
"Aku tahu apa yang ada di dalamnya, ayo kita masuk" balasnya sambil tersenyum.
"Tapi aku sudah berjanji tidak akan kembali ke ruangan itu."
"Jadi karena itu kamu menguncinya kan?" kini senyumnya semakin lebar

Aku melepaskan cengkramanku dan menunduk malu. Ya, karena aku tahu apa yang ada di dalam makanya aku memutuskan untuk menguncinya. Melihat aku yang tidak lagi berdaya, si Sedihpun membuka pintu tersebut. Aku berusaha memejamkan mata, tapi dia justru menarikku untuk masuk kedalam. Kulihat disana ada dua sosok yang sedang asik bermain, mata mereka berbinar-binar, wajah mereka tampak sangat bahagia, tapi entah mengapa kebahagiaan mereka justru membuat aku merasa terluka.

Karena di dalam ruangan semegah itulah aku mengunci si Kenangan dan Waktu bersamaan. Aku tidak ingin mereka mengisi ruang pikiranku dengan kebahagiaan yang mereka buat. Aku tidak suka jika si Waktu bersenang-senang dengan si Kenangan, karena aku tahu setelah itu pasti si Sedih akan datang. Dan benar saja, sekalipun aku sudah menutup rapat-rapat kenangan dan waktu, sedih akan terus mencari-cari jalan untuk menemukan mereka.

Tidak bisakah sekali saja semuanya berjalan sesuai keinginanku? Tidak bisakah sang Waktu hanya bermain dengan Bahagia tanpa perlu membawa Kenangan?

Jumat, 16 Januari 2015

Kau bilang aku hanya harus menunggu, tapi..

Sore itu hujan begitu deras, sama seperti berbelas tahun yang lalu saat kita terakhir kali bertemu di bulan Desember. Aku ingat saat kau mengayuh sepeda merahmu, lalu berdiri di depanku. Matamu sembab seperti habis menangis, tapi kau tetap tersenyum dan itu yang membuatku terluka. Tidak peduli sebasah apapun pakaianmu, tidak peduli seberantakan apapun rambutmu, yang aku inginkan hanya memelukmu saat itu juga sambil berkata..

"Kau hanya harus menungguku"

Semuanya berawal dari perkenalan singkat saat usiaku 13 tahun. Seorang anak laki-laki sambil menenteng sepedanya menghampiriku sambil tersenyum. Matanya begitu bulat, wajahnya manis, membuatku tidak sanggup menolak uluran tangannya. Dan saat itu dia memperkenalkan dirinya sebagai Dimas.

Semenjak hari itu aku dan Dimas sering bertemu di sekolah, dia orang yang menyenangkan dan penyabar luar biasa. Aku ingat, dahulu saat seluruh dunia menjauhiku, hanya dia satu-satunya yang rela memapahku hingga akhirnya sanggup berdiri kembali.

Kami tidak butuh uang yang banyak, kami tidak butuh hingar bingar, dalam pikiran kami saat itu hanya bersepeda dan pergi ke tempat favorit kami saja sudah menyenangkan. Itu bukan tempat mewah dengan sorotan lampu atau banyak orang didalamnya, hanya sebuah tempat dengan pemandangan gunung dan sawah sepanjang matamu memandang. Tapi disanalah kami sering menghabiskan sore.

Usianya yang setahun lebih muda membuat pola pikirku berubah. Aku tak harus memaksakan diri sedewasa gadis lainnya, cukup menikmati apa yang aku punya dan bersenang-senang dengannya sudah cukup, karena memang seharusnya begitu. Usiaku belum 17, lalu apa yang harus aku takutkan selain kehilangan moment bermain?
***

Dua pasang mata saling menatap dalam diam. Sebuah buku dan secarik kertas tergeletak manis di depan mereka. Sesekali si wanita memperhatikan sampul buku berwarna coklat yang sudah mulai menghitam itu, ia ingat betul pria yang kini ada di depannya bukan tipikal orang yang senang membaca buku. Iapun menarik buku tersebut dan mulai membacanya...




Minggu, 11 Januari 2015

Putus. Harus tetap temenan atau justru musuhan?

Siapa sih yang ga kecewa kalau hubungan yang udah dibangun lama harus berakhir ga sesuai harapan? But c'mon! dunia ga berakhir cuma karena kamu patah hati. Jadiin itu kesempatan kamu buat intropeksi dan ekstopeksi lebih dalam. Galau boleh, tapi jangan berkelanjutan ya! Move on!


Salah satu kendala yang pasti di hadapi setelah putus itu apa ya? Hmm mungkin soal perubahan status yang awalnya kita harus balik lagi jadi aku-kamu. Ya mau gimana lagi emang itu konsekuensinya, kita jadi balik lagi ke awal hubungan yang walaupun deket banget tapi ada beberapa batasan. Batasan yang dimaksud disini tuh kaya jalan berdua sambil gandengan tangan, peluk dan lain-lain. Kan ga mungkin statusnya temenan tapi kelakuannya kaya gitu. Eitss jangan dulu ngomong soal agama ya, bagi yang muslim pacaran itu emang haram. Tapi biasanya yang dilarang itu yang justru enak hahah. Astagfirullah (jangan ditiru)

Setelah putus kadang kita bingung harus menyikapi mantan kaya gimana, terutama buat kamu-kamu-kamu-dan saya (uhukk) yang ada di posisi pihak yang ditinggalin. Kita harus tetap baik sama doi atau gimana? Asli loh itu dilema banget. Disatu sisi dia pernah jadi orang yang paling mendominasi pikiran kita kalau lagi ngelamun, tapi disisi lain ada perasaan kecewa yang sakitnya naudzubillah sampe-sampe nafaspun rasanya sakit banget.

Ditambah curhat sana-sini belum tentu nemu jalan keluar. Ada yang sama-sama baru putus, eh taunya kita beda cerita dan malah bikin otak kita makin butek karena orang yang dicurhatin malah ikutan curhat -__- hadeuhh

Well, kita harus balik lagi menyelesaikan masalah sendiri dengan cara intropeksi dan ekstropeksi. Ekstropeksi perlu loh buat membandingkan posisi kita dengan oranglain. Alasannya kenapa? coba deh kamu ekstropeksi sendiri :p hahaha

Doi udah punya pacar baru tapi kok masih soksok ngehubungin kita ya?

Waktu kita lagi memulai menata hati kita yang ancur parah itu, eh dengan seenaknya si doi malah sok asik nanyain kabar. I know that feel mas mba, it feels sooooo EUHHH, doesn't it?!
Ceritanya sih mau ngajak silaturahmi, tapi orang yang diajak silaturahminya belum membuka hati tuh heheh. Harusnya sih si doi ngerti bukan malah ngejudge kita ga dewasa, kita cuma butuh waktu buat melakukan itu semua kan?

Ada kok yang putus tapi hubungannya tetap baik malah jadi sahabat, ada, ada banget. Saya pernah punya temen yang pacaran udah lama banget dari smp tapi mereka harus putus karena perbedaan keyakinan. Semakin mereka ngejalanin hubungan dan semakin dewasa, mereka sadar kalau hubungan itu dibawa serius harus ada yang rela berkorban nantinya. Tapi Tuhan ga bisa dikorbankan cuma karena cinta. Sekalipun harus menikah dengan agama masing-masing, masalah belum selesai sampai disitu. Gimana pendapat keluarga? gimana nasib kalau mereka punya anak nanti? Emang enak punya kakak atau adik yang beda keyakinan? Mau solat berjamaah ga bisa, mau ke gereja bareng ga bisa. Disitu akhirnya mereka nyerah dan lebih milih jadi temen lagi. Sedihkan? aku aja yang dengernya sampe cirambay.

Terus gimana kalau yang nasibnya jadi korban perselingkuhan? Nah kita harus mikir keras. Mungkin saat itu kita lagi sayang-sayangnya, lagi prepare something special buat anniversary, atau udah ada janji yang sebenarnya bentar lagi bakal kalian realisasikan bareng-bareng. Tapi ternyata orang yang diharapkan malah tega nusuk kita diam-diam. Ini sakitnya beda dari masalah yang ada diatas. Sekalipun sama-sama putus tapi apa yang terjadi setelahnya yang beda. Kita terluka, kecewa, marah, tapi harus gimana? Perasaan mereka berdua sama, mau berjuang sendirian? sama aja pacaran sama diri sendiri itu namanya! GI-LA!


Lalu akhirnya kita milih buat ngalah, yang artinya kita ngikhlasin dia buat orangalain. Dan karena alasan itu juga akhirnya kita mulai ngejauhin doi. Kita pindahin semua barang-barang yang berhubungan sama dia, kita hapus chat historynya, malah ada yang sampe nekat main block disemua akun sosmed saking kecewanya. Tapi saya saranin kalau kalimat terakhir tadi jangan dilakuin ya, jadilah orang yang lebih bijak. Selama dia ga macem-macem dan nyusahin kamu, lebih baik cuek aja. Terserah dia mau pasang pm yang mengesankan kalau mereka 'lagi bahagia'. Toh dulu waktu kita pacaran sama dia juga gitu, kita main sana-sini diupdate. Sekarang kerasakan kaya gimana kalau jadi oranglain waktu baca pm kaya gitu? temen deket kamu mungkin bilang "Ih so sweet, envy deh" tapi oranglain yang ga begitu deket sama kamu gimana? mereka bakal bilang "Seriously?" sambil pasang muka eneuk nahan muntah(?). Lebih baik cuekin aja, kamu bukan satu-satunya orang yang sendirian di dunia ini kok. Jangan liatin kesedihan kamu, ga jarang oranglain cuma seneng ngeliat kita susah.

Si mantan bersikeras ingin temenan sama kita, tapi hati kita udah terlalu kecewa. Memaafkan bukan berarti mengulang, kita cuma ga mau disaat kita lagi asik-asik chat sebagai teman eh dianya malah ngajakin flashback. Itu ga ada asik-asiknya sama sekali. Menjauh juga bukan berarti menjadikannya musuh, kita cuma ingin meminimalisir rasa sakit. Kita menjauh karena kita mau memasuki dunia yang lebih baru tanpa diakan? Kalau ga ada hal yang penting-penting banget, lebih baik ga usah ngehubungin. Kalau si doi bilang ingin sahabatan, tolak dengan halus. Karena kamu udah disakitin bukan berarti kamu ingin nyakitin pacar barunya doi jugakan? Walaupun agak sedikit munafik tapi coba bayangin kalau kita ada di posisi pacar barunya mantan, emang enak pacar kita masih deket banget sama mantannya? emang ga panas kalau ngeliat mereka yang dulunya berstatus pacaran  terus sekarang kamu liat lagi bercanda sampe cubit-cubitan gitu di depan kamu?


Terserah kamu mau ngambil keputusan yang mana, kita punya jalan cerita yang beda-beda. Kita emang butuh saran oranglain tapi jangan jadiin itu patokan kamu dalam bertindak, inget itu cuma saran bukan perintah. Buka pikiran kamu seluas-luasnya, sikapi kegalauan dengan cara yang positif. Jangan terlalu membenci oranglain karena itu justru bikin kamu semakin teringat. Sekarang mungkin kamu menjauh karena kamu punya alasan rasional buat ngejauhin dia, tapi ketika luka kamu benar-benar sembuh pastikan kalian tetap berteman, mungkin sebagai rekan bisnis nantinya :)
Semangat!

Jumat, 09 Januari 2015

Kenangan yang kita miliki terlalu luas di genggam jemari

Mungkin saat ini kamu berpikir kalau aku sedang memojokkanmu, kenyataannya tidak. Aku hanya sedang menikmati sensasi yang orang lain sebut dengan patah hati. Entah mengapa aku mulai menikmatinya dengan cara yang ya.. menurutku menyenangkan. Aku tidak akan menggoreskan lenganku dengan silet atau meneguk racun hanya karena patah hati, sayang. Melampiaskannya menjadi sebuah tulisan mungkin akan sedikit menghiburku. Kamu sangat tahu kalau aku suka menuliskan?


Aku tidak hendak menanyakan bagaimana kabarmu, akupun sejujurnya tidak sedang merindukanmu. Aku hanya sedang mengenang apa yang pernah terjadi.

Setelah membaca sepenggal kalimat dari salah satu blogger favoritku Falen Pratama itulah, aku tergerak untuk kembali ke dunia blog. Dunia yang sempat kutinggalkan sejak kita (dulu) resmi berpacaran. Bersamamu begitu menyita banyak waktu, tapi sungguh aku tidak menyesalinya sedikitpun. Kamu membuka dunia baru yang sebelumnya belum pernah aku jamaah dengan kaki kaki kecilku. Kamu membuat waktu yang panjang terasa sangat singkat. Saking singkatnya sampai aku tidak sadar kalau sedikit demi sedikit hatimu mulai memudar.

Aku tidak begitu pintar untuk membuatmu terkesan, aku juga takut kalau kita tidak bahagia. Aku mengabaikanmu berhari-hari untuk seleksi universitas, kau tahu kenapa? Karena disatu sisi aku ingin membuatmu tidak malu memiliki si aneh ini. Dan doamu melebur bersama doa kedua orangtuaku sepanjang perjalanan itu. Sama seperti saat kita pertama kali bertemu, ucapanmu manjur. Akhirnya aku dinyatakan lulus. Beberapa orang pesimis, tapi kamu optimis jika aku bisa.  Terimakasih

Aku terlalu kuat untuk kamu jatuhkan, tapi terlalu lemah untuk sekedar berdiri menghadapimu dengan seribu pertanyaan. Sejak kapan? Bagaimana bisa? Kenapa? sungguh aku punya niatan untuk mengatakannya. Tapi sekali lagi kupertegas, aku terlalu lemah untuk melakukannya. Hatiku belum siap menerima. Sebenarnya aku sudah sadar ada yang tidak beres dengan hubungan kita akhir-akhir itu, tapi semuanya kutepis karena tidak ingin membuatmu merasa tidak dipercaya. Aku terlalu sering menempatkanmu pada posisi yang tidak tepat, aku terlalu sering menyusahkanmu, aku terlalu nyaman dengan peranku sampai tanpa sadar melompati dinding yang sebenarnya tidak boleh ku lewati.

Kenangan yang kita miliki terlalu luas untuk di genggam jemari, sehingga wajar kalau sekarang berserakan. Tapi aku yakin kita akan terbiasa berjalan disekitarnya. Jangan lihat kebawah! lihat apa yang ada digenggamanmu sekarang, saat kau buka genggamanmu, sekali lagi kenangan itu akan jatuh perlahan-lahan. Dan akhirnya hanya kenangan yang ada digenggamankulah yang tersisa. Aku tak masalah menjadi yang terakhir menggenggamnya, karena aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang menggenggam tanganku juga, sampai sampai aku lupa dengan apa yang aku genggam sebelumnya.

Kamu terlihat jauh lebih bahagia sekarang, tapi kenapa masih mencoba mengusikku? Aku tidak memintamu untuk menanyakan kabar, kita masih punya teman yang bisa dihubungi. Sejauh ini aku baik dan kamu juga terlihat baik baik saja, jika terjadi sesuatu mungkin kita akan saling mendengar walaupun mulut kita saling terkunci. Satu hal yang harus kamu ingat, siapa yang membuang dan siapa yang dibuang? Jangan membuat aku berpikir kalau kamu masih menggenggam sesuatu yang seharusnya tidak kamu genggam lagi. Itu sakit buatku.

Kamu mengajarkanku bahwa ekspektasi berlebihan terhadap seseorang hanya menimbulkan kekecewaan. Mungkin saat itu aku terlalu naif hahah.

Kamu bertanya dimana sisi kedewasaanku dalam menyikapi masalah ini, sekarang aku tanya dimana sisi kedewasaanmu untuk berpikir kalau berkhianat itu tidak baik? Seiring berjalannya waktu aku juga akan lupa dengan rasa sakitnya, aku akan jadi seperti aku yang kamu kenal lagi. Caranya? biarkan aku sendiri dengan dunia baruku, karena aku juga tidak akan mengusik duniamu.

Kamu orang yang baik, buatlah aku berpikir seperti itu sampai kapanpun. Aku tidak tahu akan jadi apa kamu beberapa tahun kedepan, tapi semoga kamu sehat karena itu awal dari kamu bisa meraih cita-cita. Dan.. jangan suka nangis lagi ^ ^ hahah