"Kau hanya harus menungguku"
Semenjak hari itu aku dan Dimas sering bertemu di sekolah, dia orang yang menyenangkan dan penyabar luar biasa. Aku ingat, dahulu saat seluruh dunia menjauhiku, hanya dia satu-satunya yang rela memapahku hingga akhirnya sanggup berdiri kembali.
Kami tidak butuh uang yang banyak, kami tidak butuh hingar bingar, dalam pikiran kami saat itu hanya bersepeda dan pergi ke tempat favorit kami saja sudah menyenangkan. Itu bukan tempat mewah dengan sorotan lampu atau banyak orang didalamnya, hanya sebuah tempat dengan pemandangan gunung dan sawah sepanjang matamu memandang. Tapi disanalah kami sering menghabiskan sore.
Usianya yang setahun lebih muda membuat pola pikirku berubah. Aku tak harus memaksakan diri sedewasa gadis lainnya, cukup menikmati apa yang aku punya dan bersenang-senang dengannya sudah cukup, karena memang seharusnya begitu. Usiaku belum 17, lalu apa yang harus aku takutkan selain kehilangan moment bermain?
***
Dua pasang mata saling menatap dalam diam. Sebuah buku dan secarik kertas tergeletak manis di depan mereka. Sesekali si wanita memperhatikan sampul buku berwarna coklat yang sudah mulai menghitam itu, ia ingat betul pria yang kini ada di depannya bukan tipikal orang yang senang membaca buku. Iapun menarik buku tersebut dan mulai membacanya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar