Mungkin saat ini kamu berpikir kalau aku sedang memojokkanmu, kenyataannya tidak. Aku hanya sedang menikmati sensasi yang orang lain sebut dengan patah hati. Entah mengapa aku mulai menikmatinya dengan cara yang ya.. menurutku menyenangkan. Aku tidak akan menggoreskan lenganku dengan silet atau meneguk racun hanya karena patah hati, sayang. Melampiaskannya menjadi sebuah tulisan mungkin akan sedikit menghiburku. Kamu sangat tahu kalau aku suka menuliskan?
Aku tidak hendak menanyakan bagaimana kabarmu, akupun sejujurnya tidak sedang merindukanmu. Aku hanya sedang mengenang apa yang pernah terjadi.
Setelah membaca sepenggal kalimat dari salah satu blogger favoritku Falen Pratama itulah, aku tergerak untuk kembali ke dunia blog. Dunia yang sempat kutinggalkan sejak kita (dulu) resmi berpacaran. Bersamamu begitu menyita banyak waktu, tapi sungguh aku tidak menyesalinya sedikitpun. Kamu membuka dunia baru yang sebelumnya belum pernah aku jamaah dengan kaki kaki kecilku. Kamu membuat waktu yang panjang terasa sangat singkat. Saking singkatnya sampai aku tidak sadar kalau sedikit demi sedikit hatimu mulai memudar.
Aku tidak begitu pintar untuk membuatmu terkesan, aku juga takut kalau kita tidak bahagia. Aku mengabaikanmu berhari-hari untuk seleksi universitas, kau tahu kenapa? Karena disatu sisi aku ingin membuatmu tidak malu memiliki si aneh ini. Dan doamu melebur bersama doa kedua orangtuaku sepanjang perjalanan itu. Sama seperti saat kita pertama kali bertemu, ucapanmu manjur. Akhirnya aku dinyatakan lulus. Beberapa orang pesimis, tapi kamu optimis jika aku bisa. Terimakasih
Aku terlalu kuat untuk kamu jatuhkan, tapi terlalu lemah untuk sekedar berdiri menghadapimu dengan seribu pertanyaan. Sejak kapan? Bagaimana bisa? Kenapa? sungguh aku punya niatan untuk mengatakannya. Tapi sekali lagi kupertegas, aku terlalu lemah untuk melakukannya. Hatiku belum siap menerima. Sebenarnya aku sudah sadar ada yang tidak beres dengan hubungan kita akhir-akhir itu, tapi semuanya kutepis karena tidak ingin membuatmu merasa tidak dipercaya. Aku terlalu sering menempatkanmu pada posisi yang tidak tepat, aku terlalu sering menyusahkanmu, aku terlalu nyaman dengan peranku sampai tanpa sadar melompati dinding yang sebenarnya tidak boleh ku lewati.
Kenangan yang kita miliki terlalu luas untuk di genggam jemari, sehingga wajar kalau sekarang berserakan. Tapi aku yakin kita akan terbiasa berjalan disekitarnya. Jangan lihat kebawah! lihat apa yang ada digenggamanmu sekarang, saat kau buka genggamanmu, sekali lagi kenangan itu akan jatuh perlahan-lahan. Dan akhirnya hanya kenangan yang ada digenggamankulah yang tersisa. Aku tak masalah menjadi yang terakhir menggenggamnya, karena aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang menggenggam tanganku juga, sampai sampai aku lupa dengan apa yang aku genggam sebelumnya.
Kamu terlihat jauh lebih bahagia sekarang, tapi kenapa masih mencoba mengusikku? Aku tidak memintamu untuk menanyakan kabar, kita masih punya teman yang bisa dihubungi. Sejauh ini aku baik dan kamu juga terlihat baik baik saja, jika terjadi sesuatu mungkin kita akan saling mendengar walaupun mulut kita saling terkunci. Satu hal yang harus kamu ingat, siapa yang membuang dan siapa yang dibuang? Jangan membuat aku berpikir kalau kamu masih menggenggam sesuatu yang seharusnya tidak kamu genggam lagi. Itu sakit buatku.
Kamu mengajarkanku bahwa ekspektasi berlebihan terhadap seseorang hanya menimbulkan kekecewaan. Mungkin saat itu aku terlalu naif hahah.
Kamu bertanya dimana sisi kedewasaanku dalam menyikapi masalah ini, sekarang aku tanya dimana sisi kedewasaanmu untuk berpikir kalau berkhianat itu tidak baik? Seiring berjalannya waktu aku juga akan lupa dengan rasa sakitnya, aku akan jadi seperti aku yang kamu kenal lagi. Caranya? biarkan aku sendiri dengan dunia baruku, karena aku juga tidak akan mengusik duniamu.
Kamu orang yang baik, buatlah aku berpikir seperti itu sampai kapanpun. Aku tidak tahu akan jadi apa kamu beberapa tahun kedepan, tapi semoga kamu sehat karena itu awal dari kamu bisa meraih cita-cita. Dan.. jangan suka nangis lagi ^ ^ hahah

Huwoowww 😘
BalasHapusGimana san? :v hahaha
BalasHapusKeren kenapa ga bikin novel sekalian :3
HapusGa pernah kepikiran sampe sejauh itulah -_-
Hapus